Cari

Al Ihya Yunus Putri

Perempuan biasa tanpa prestasi apa-apa

Menanti hati

Kembali sore ini ku duduk termenung lagi
Memandang kosong tak berarti
Makin di rasa makin sunyi
Sepi, sendiri lagi

Ingin aku pergi
Berlari ke tempat yang bersedia untukku dapat berbagi
Namun hanya bisa tersenyum seorang diri

Menanti hati
Yang seharuanya datang tanpa di undang
Yang seharusnya tiba tanpa di minta

Sirna,
Lidah sudah Keluh seolah enggan berkata-kata
Hanya bisa diam dan diam

Maksud hati ingin memyampaikan
Tapi logika seolah menahan

Semoga engkau paham
Bahwa hanya hatimu yang aku nantikan
Untuk tempat berbagi segala risau

Featured post

Rujak Ikan

Memancing memang sudah akrab bagiku, bahkan sejak kecil, aku sudah menjadi pemancing yang baik, menurutku. Menjadi pemancing yang baik ternyata tidak membuatku cukup tahu nama-nama dan jenis-jenis ikan. Bahkan semua ikan yang dilaut kusebut ikan tongkol, kecuali hiu dan paus. Ikan air tawar, membedakan antara ikan nila, ikan mas, ikan mujair pun aku tak pandai. Ah kalau dikaji-kaji lagi ternyata aku hanya pemancingmania saja tapi bukan pemancing yang baik.

Namun, semenjak kejadian itu, aku yang nyaris tenggelam karena mandi disungai, terpeleset tanah yang licin dan tidak bisa berenang mulai berhenti memancing disungai karena tidak diizinkan oleh orang tuaku semenjak kejadian itu.

Suka memancing pun ternyata tak membuatku bisa memasak ikan dengan baik. Sambal ikan atau ikan disambal, itulah satu-satunya menu yang bisa aku masak. Lumayanlah daripada tidak sama sekali.

Lalu kemudian disuatu hari, aku dimasakkan oleh seseorang. “Rujak ikan” itulah nama menu masakannya. Nama itu adalah karanganku sendiri, sebenarnya ada nama aslinya tapi aku lupa, karena namanya yang agak ribet dan susah diingat, jadilah aku memberi nama sendiri dengan nama “Rujak ikan”. Aku memang begitu, suka-sukaku saja.

Lalu kenapa aku beri nama “Rujak ikan”? Nanti akan kuberitahu. 

Yang lebih istimewanya lagi adalah, ikan yang dimasak adalah ikan hasil pancinganku. Yang aku pancing dari kolam ikan atau bisa juga disebut tabek yang ada disebelah rumah seseorang tersebut. 

“Adek, lagi ngapain berdiri didepan kolam sendirian?” tanyaku pada anak kecil yang sedang berdiri disamping kolam.

“Lagi mancing mbak” jawabnya singkat jelas dan padat kayak kue bolu.

“Emang ada ikannya? Mbak ikutan boleh? Mancingnya pake apaan? Boleh buatin mbak pancingnya juga ngga?” Aku dengan pertanyaanku yang begitu banyak dan bisa jadi membuatnya bingung untuk menjawab.

“Boleh mbak, sini. Mbak pakai aja pancing ini, biar aku cari pancing yang lain” jawabnya santai.

“Wah makasih adek. Ini pakai apa umpannya? Emang ada banyak ya ikan didalam kolamnya? Ikan apa aja? ” lagi-lagi aku banyak tanya. 

“Pakai cacing, ada mbak. Tapi yg mau dipancing yang kecil-kecil aja. Kalau mau yang besar ikannya, diambil pakai jaring masuk kedalam kolamnya langsung” jawabnya.

Aku cuma mengangguk-angguk menjawab responnya diiringi dengan senyum termanis.

Sesaat kemudian, pancinganku bergerak, tanda umpannya dimakan, tanpa berfikir langsung ku angkat, dan ternyata….. Zonk!!!! Umpan habis ikan ngga dapat. 

“Yah, habis umpannya dek. Ayok cari cacing, dimana carinya?”.

Ia tersenyum dan menjawab “ayok mbak disana, dibawah batang ubi itu ada banyak cacing”. Ia kemudian berjalan menuju tempat yang dimaksud dan aku mengikuti.

Ternyata sudah ada cangkul disana.

“Sini biar mbak aja yang nyangkul tanahnya, adek ambil cacingnya”.

“Mbak saja, aku mau cari pancing yang lain, biar ada dua pancingnya. Biar lebih banyak dapat ikan” jawabnya kemudian berlalu.

“Oh gitu, oke” jawabku, setengah setuju setengah tidak.

Tanahnya lembut, sejuk dibawah batang-batang ubi. Cacingnya banyak. Aku seperti sedang panen cacing, setiap kugali tanah, selalu ada cacingnya. Memegang cacing tanah sudah biasa bagiku. Setelah dapat banyak, aku kemudian kembali ketempat pemancingan. 

Aku kemudian mulai memancing kembali. Tidak butuh waktu lama, ikan mulai menghampiri pancingku. Satu persatu ikan kudapat. Begitupun dengan si adeknya. Ia juga dapat ikan yang banyak.

“Ya ampun, pakai gamis malah mancing. Itu becek gamisnya kena tanah, nanti mau dibawa sholat. Malah main ikan, nanti amis” ucap seseorang itu yang baru keluar rumah sehabis mandi, padaku yang tengah asik memancing dan mengumpulkan ikan yang kudapat didalam ember.

“Biarin, ini lagi seru. Nanti ikannya bisa dimasak. Terus dimakan” jawabku.

“Ikan kecil-kecil itu mau dimasak apa? Mending ambil ikannya pakai jaring aja sekalian biar dapat ikan yang besar”.

“Engga, mancing lebih seru”.

“Yo wes terserah, itu awas bajunya kotor”. 

“Biarin”.

Aku dan si adek telah mengumpulkan ikan yang cukup untuk dimasak. Tapi sepertinya aku tidak ingin berhenti memancing.

“Sudah-sudah itu ikannya sudah banyak, anterin kesumur biar diperutin sama ayuk, kebetulan dia lagi disumur” ucap seseorang itu lagi.

“Belum. Nanggung, ya kan dek?” jawabku mencari pembelaan.

“Itu ada banyak ikan besar didalamnya, kalau dipancing cuma ikan kecil yang dapat” ucap ibuk padaku yang baru saja keluar dari rumah dalam keadaan cantik karena mau pergi pengajian.

“Iya buk, mancing aja lebih seru” jawabku cengengesan plus gerogi.

“De, ayok anterin ibuk kepengajian” ucap ibu pada seseorang itu.

“Iya buk” jawabnya.

Ia kemudian mendekatiku dan bilang “Sana kamu aja yang anter”.

Dan aku shock seketika, langsung menolak dengan cepat “engga ah, ngga mau, kamu aja, ini aku bau amis, kotor, masa disuruh ngaterin ibu, pergi sana nanti ibuk terlambat lagi”.

“Iya deh, sudahan mancingnya, anterin ikannya kesumur, ada ayuk disana” Ia kemudian berlalu pergi. 

Setelah pancingan terakhir. Aku kemudian mengantarkan ikan ke sumur. Kemudian ayuk langsung perutin ikannya. Sambil memperhatikannya, kami sesekali berbincang.

Ikan yang sudah diperutin kemudian aku letakkan didapur. Didapur ternyata sudah ada bumbu yang diletakkan didalam ulekan. Kubiarkan ikannya disana, aku kemudian mengajak si adek untuk menonton tv diruang tengah.

“Mana ikannya?” ucap seseorang itu padaku sesaat setelah ia memasuki rumah.

“Ada didapur” jawabku.

“Loh ngga dimasak?” tanyanya lagi.

“Enggak” jawabku singkat. 

Ia kemudian pergi kedapur. Lalu aku mengikutinya dari belakang. 

“Ini bumbu yang sudah disiapin ibuk tadi sebelum pergi, ini bumbu *aku lupa namanya*” ucapnya.

“Cara masaknya gimana?” tanyaku.

“Goreng dulu ikannya, bumbunya cuma ditumbuk aja, terus nanti dikasih air dikit, lalu disiramin ke ikan yang sudah digoreng”.

“Kayak rujak dong berarti” kataku.

Aku kemudian menggoreng ikannya. Sedangkan Ia menumbuk bumbunya.

Setelah semua selesai, tahap terakhir. Ikan yang sudah digoreng disiram bumbu yang telah ditumbuk halus plus dikasih air sedikit. Dan ikan siap disantap. Mirip sekali seperti rujak.

Jadilah menu masakan itu aku beri nama “rujak ikan” walau padahal nama aslinya bukan itu. 

Kami bertiga, aku, adek dan si chef kemudian menikmatinya dengan seksama.

Rasanya lumayan enak, tapi agak pedas karena pakai cabe rawit. Dan aku ternyata tak begitu menyukai menu yang baru pertama kali aku makan itu.

Namun, walau tidak terlalu suka, sekarang rasanya ingin makan “rujak ikan” lagi.

Jadi itulah alasannya kenapa aku beri nama “rujak ikan”. Proses pembuatan bumbunya mirip seperti bumbu rujak.

Semoga saja next bisa makan “rujak ikan”lagi, dengan ikan hasil pancingan sendiri lagi.

Meja

Pict from tumblr

Di meja itu, kita sering memperdebatkan untuk bisa sampai dimeja itu. Kamu suka ini, aku suka itu. Kamu maunya kesana tapi aku ingin kesitu. Hingga akhirnya sampailah ke meja itu. Kamu bisa jadi dengan terpaksa menuruti inginku.

Di meja itu, aku lebih suka kamu duduk di hadapanku dari pada disampingku. Entalah tak ada alasan yang pasti kenapa bisa begitu. Bisa jadi mungkin karena agar aku bisa lebih leluasa menatap lesung pipimu. 

Di meja itu, terkadang aku dengan sengaja memilih menu makanan yang berbeda darimu. Agar aku bisa mencicipi lebih banyak jenis makanan. Dan kamu sepakat dengan itu.

Di meja itu, kamu selalu bercerita tentang apa saja, tentang siapa saja. Tapi porsi ceritaku mungkin lebih banyak darimu, maklum perempuan memang begitu. Bisa jadi cerita yang sama mungkin kuulang berkali-kali, sengaja untuk memastikan kamu selalu setia mendengar meski mungkin membosankan. 

Di meja itu, aku lebih suka memesan ikan daripada ayam. Sedangkan kamu sebaliknya. Aku suka minuman yang ada ice creamnya. Dan ternyata kamu juga suka.

Di meja itu, aku lebih banyak tidak sukanya dari pada sukanya, sedangkan kamu menyukai semuanya. Aku sering memanggilmu omnivora.

Di meja itu, aku lebih sering menyisakan makananku, tapi kamu selalu membersihkan makanan yang ada dipiringmu tanpa sisa, dan aku suka itu. 

Di meja itu, aku suka memotret makanan sebelum dimakan. Kamu hanya tersenyum. Bahkan sering mengingatkan saat aku lupa.

Di meja itu_

Kita sama-sama berakhiran (i)

​Salahku yang pernah menaruh harap lebih

maaf kini aku memilih pergi

bukan karena kamu sudah tak ku ingini

tapi berharap pada yang tak pasti hanya akan membuat perih

jika jalanmu memang denganku kita pasti akan dipertemukan kembali

jika bukan, mungkin ini adalah pelajaran untuk lebih berhati-hati menaruh hati

tapi sungguh, kamu masih kunanti meski sedikit demi sedikit harapku kupaksa untuk berhenti

namun, semoga engkau mengerti

kau masih ada disini, disudut hati paling sunyi

bisakah untuk tidak membuatku menunggu lebih lama lagi?

Mendampingi atau Menunggu?

“Carilah orang yang ingin mendampingimu menuju puncak, bukan yang hanya menunggumu ketika di puncak”.

Iya, sekilas kata-kata itu benar sekali

Sebagian orang atau mungkin semua orang tentu menginginkan ada seseorang yang mendampinginya menuju puncak, menemani dalam susah dan senang

Orang yang mendampingi dalam artian disini adalah pasangan 

Dalam hal ini saya akan membahas makna dari kata-kata tersebut dari sudut pandang saya sebagai seorang muslimah

Sebagian orang, terutama dari kalangan anak muda, yg muslim dan muslimah khususnya, terkadang salah dalam memahami makna kata-kata tersebut

Mendampingi disini kadang disalah artikan, mendampingi dengan cara melakukan yang namanya “pacaran”

Menjadikan kata-kata tersebut sebagai motivasi untuk mendampingi pacarnya menuju kesuksesan

Jadi nanti kalau sudah sama-sama sukses baru nikah, begitulah kira-kira

Padahal, di dalam islam, tidak ada dan tidak dibenarkan yang namanya pacaran !!!

Tentu kata-kata tersebut sangat indah maknanya apabila diaplikasikan dengan cara yang benar

Akan sangat indah apabila yang mendampingi adalah orang yang telah halal bagi kita

Orang yang apabila kita memandangnya dengan penuh cinta akan mendapatkan pahala, bukan malah sebaliknya

Jadi, untuk ikhwan-ikhwan yang merasa ada akhwat-akhwat yang hanya menunggu saja di puncak, jangan salah faham dulu

Akhwat-akhwat nya sangat ingin mendampingi ikhwan-ikhwan sekalian menggapai kesuksesan bersama, asalkan dengan cara yang benar, bukan modus dengan mengajak pacaran

Nah, Untuk ikhwan yang belum siap mengajak akhwat nya untuk mendampingi menuju kesuksesan, ya persiapkan diri

Lakukan saja semua nya sendiri dahulu, toh ada orang tua, dan sahabat yang senantiasa mendampingi

Begitu juga dengan akhwat, sembari menunggu ikhwan nya menjemput untuk mendampingi, perbaiki saja diri terlebih dahulu, sibukkan diri dengan hal-hal yang baik

So, jangan jadikan kata-kata itu modus buat pacaran ya guys, modus buat bilang ke pacarnya kalau “aku bakal ngedampingin kamu dalam susah dan senang” 

Sendiri dalam taat lebih baik daripada berdua tapi maksiat 😊😊

(Mungkin) berteman dengan jarak 

Aku tak pernah sepenuhnya memahami apakah aku berteman atau bahkan sebaliknya dengan jarak

Aku tak pernah sepenuhnya membenci jarak, pun aku tak pernah ingin menyukai jarak

Harus berterimakasih atau memaki?

Aku sangat ingin berterimakasih pada jarak yang mengajarkan aku arti rindu, arti waktu, arti temu

Sebaliknya aku juga ingin memaki jarak yang membentang tanpa penghalang, membuatku menahan sesak bukan kepalang

Mungkin sejatinya hidup memang begitu, jarak ada untuk mengajarkan beberapa hal yang tak bisa didapatkan dari yang lain 

wahai jarak

Aku bukanlah pelajar yang baik, tapi meskipun demikian aku tahu kau akan senantiasa mengajarkanku dengan baik

Jarak

Titipkan  salam rinduku untuk kedua malaikat nyataku

Titipkan juga salamku untuk dia yang (mungkin) sedang menunggu 

Gerimis, 13 Juli 2016

Hening

Bersorak-sorak daku pada pantai
Berteriak-teriak daku pada gunung
Namun semua diam
Namun semua hening

Berlari-lari daku mencari
Bergoyang-goyang fikiranku melayang
Namun tak kunjung kutemukan
Namun tak kunjung kudapatkan

Kacau
Risau
Semakin ku cari semakin menghilang
Semakin ku kejar semakin menghindar

Sadar
Dalam hening malam ku tersadar
Dalam diam fikiranku terkapar
Hanya Dia seharusnya tempat bersandar

Di hening malam, 26 okt 2015
Salam rindu 😊

Museum Adityawarman dan Monumen Korban Gempa

Walaupun dalam keadaan cuaca yang tidak bersahabat alias hujan, semangat untuk pergi ke museum Adityawarman tetap tak tergoyahkan. Dengan kondisi hujan, saya dan sahabat saya gina, tetap nekat pergi ke museum, setelah sampai di museum, kami langsung masuk dan melihat-lihat. Niat awal ke museum untuk melihat pameran naskah kuno ternyata tak tersampaikan karena pameran yang ingin kami lihat ternyata tidak dibuka, kami pun berkeliling-keliling sampai pusing di museum, dan tak sengaja bertemu dengan salah seorang petugas museum tersebut, kamipun kemudian bercerita panjang kali lebar dengan petugas tersebut. beliau bercerita banyak tentang museum, mulai dari sejarah museum sampai dengan sejarah beliau bisa bekerja di museum tersebut, yag menurut saya cerita beliau tersebut sangat mengharukan. setelah bercerita panjang kali lebar dan haripun sudah sore, kamipun mengakhiri perbincangan yang sangat mengasyikan sekaligus mengharukan tersebut dna saling berpamitan.

Saya dan Gina langsung melangkahkan kaki untuk pulang, namun niat hati pun bercabang ingin makan bakso, mungkin karena dorongan cuaca yang mendung dan menginginkan yang panas-panas. hehehe. sepanjang perjalanan mencari warung bakso, tak sengaja saya melihat sebuah monumen yang sebelumnya belum pernah saya lihat walaupun saya sudah 4 semester kurang sedikit berdiam di Kota Padang tercinta. Monumen yang saya maksud adalah Monumen Korban Gempa yang terjadi pada 30 september 2009 yang letaknya tak jauh dari museum Adityawarman, setelah melihat monumen tersebut hati saya merasa aneh, dan saya pun tak tahu kenapa, entah karena terharu, heran dan perasaan-perasaan yang lain, di dekat monumen tersebut juga dituliskan nama-nama korban gempa dan beberapa puisi yang salah satunya di tulis oleh walikota Padang waktu itu, yaitu pak Fauzi Bahar.

Processed with VSCOcam with f2 preset
Monumen Korban Gempa.

Saya merasa sangat terharu, mungkin salah satu sebabnya adalah karena ada banyak hal yang tidak saya ketahui, dan salah keduanya mungkin karena saya merasa sedih atas kejadian gempa yang menimpa kota padang 5 tahun silam. semoga mereka ditempatkan di sisi Allah SWT. Amin.

Setelah melihat- lihat dan membaca-baca, kamipun langsung berfoto-foto ria di sana. Setelah berfoto-foto kami pun langsung melanjutkan perjalanan menuju warung bakso.

Pengalaman yang menurut saya sedikit luar biasa untuk hari ini, mulai dari awal pergi dalam keadaan hujan hingga pulang juga dalam keadaan hujan. namun saya merasa sangat senang karena ada banyak hal yang bisa saya ketahui hari ini, mulai dari sejarah museum, sejarah salah satu petugas disana dan mengetahui bahwa di Padang ada Monumen Korban Gempa. Alhamdulillah.

sudahkan anda membaca hari ini?

Tidak tahu apa dan kenapa alasan saya menuliskan tulisan ini.
Dengan pertanyaan “sudahkah anda membaca hari ini?” Tadi pagi oleh dosen saya.
Membuat hati saya merasa tersentuh.
Mengambil program studi ilmu informasi membuat saya merasa malu karena sebagai calon ahli informasi tapi setiap harinya saya selalu ketinggalan informasi dan jarang membaca.

Semoga ini bisa menjadi motivasi untuk awal yang baik.
Perbaiki diri. Tinggalkan hak-hal yang ga penting.
Yuk mari lebih rajin baca.
Iqro’=bacalah..

Berdua tapi sendiri

Entah untuk yg keberapa kali
Aku merasa sendiri (lagi)
Diam-diam merasa sepi
Tanpa kamu di sini

Ingin marah tapi lelah
Ingin menangis tapi malu
Hanya bisa bercerita sendiri
Dengan cermin di hadapan

Berdua tapi sendiri
Ingin ku tulis lagu dengan judul itu
Agar kau tau sibukmu membuatku merasa sendiri
Agar kau dengar suara merduku dalam luka

Sebab cinta bukan tentang meminta
Biarlah luka kutanggung sendiri
Sebab cinta bukan tentang memaksa
Biarlah sedih kuhibur sendiri

Berdua tapi sendiri
Ditengah keramaian lalu lalang jalanan
Semakin ku pandang semakin lengang

Berdua tapi sendiri ____

Blog di WordPress.com.

Atas ↑