Cari

Al Ihya Yunus Putri

Perempuan biasa tanpa prestasi apa-apa

Menanti hati

Kembali sore ini ku duduk termenung lagi
Memandang kosong tak berarti
Makin di rasa makin sunyi
Sepi, sendiri lagi

Ingin aku pergi
Berlari ke tempat yang bersedia untukku dapat berbagi
Namun hanya bisa tersenyum seorang diri

Menanti hati
Yang seharuanya datang tanpa di undang
Yang seharusnya tiba tanpa di minta

Sirna,
Lidah sudah Keluh seolah enggan berkata-kata
Hanya bisa diam dan diam

Maksud hati ingin memyampaikan
Tapi logika seolah menahan

Semoga engkau paham
Bahwa hanya hatimu yang aku nantikan
Untuk tempat berbagi segala risau

Featured post

Meja 

Pict from tumblr

Di meja itu, kita sering memperdebatkan untuk bisa sampai dimeja itu. Kamu suka ini, aku suka itu. Kamu maunya kesana tapi aku ingin kesitu. Hingga akhirnya sampailah ke meja itu. Kamu bisa jadi dengan terpaksa menuruti inginku.

Di meja itu, aku lebih suka kamu duduk di hadapanku dari pada disampingku. Entalah tak ada alasan yang pasti kenapa bisa begitu. Bisa jadi mungkin karena agar aku bisa lebih leluasa menatap lesung pipimu. 

Di meja itu, terkadang aku dengan sengaja memilih menu makanan yang berbeda darimu. Agar aku bisa mencicipi lebih banyak jenis makanan. Dan kamu sepakat dengan itu.

Di meja itu, kamu selalu bercerita tentang apa saja, tentang siapa saja. Tapi porsi ceritaku mungkin lebih banyak darimu, maklum perempuan memang begitu. Bisa jadi cerita yang sama mungkin kuulang berkali-kali, sengaja untuk memastikan kamu selalu setia mendengar meski mungkin membosankan. 

Di meja itu, aku lebih suka memesan ikan daripada ayam. Sedangkan kamu sebaliknya. Aku suka minuman yang ada ice creamnya. Dan ternyata kamu juga suka.

Di meja itu, aku lebih banyak tidak sukanya dari pada sukanya, sedangkan kamu menyukai semuanya. Aku sering memanggilmu omnivora.

Di meja itu, aku lebih sering menyisakan makananku, tapi kamu selalu membersihkan makanan yang ada dipiringmu tanpa sisa, dan aku suka itu. 

Di meja itu, aku suka memotret makanan sebelum dimakan. Kamu hanya tersenyum. Bahkan sering mengingatkan saat aku lupa.

Di meja itu_

Kita sama-sama berakhiran (i)

​Salahku yang pernah menaruh harap lebih

maaf kini aku memilih pergi

bukan karena kamu sudah tak ku ingini

tapi berharap pada yang tak pasti hanya akan membuat perih

jika jalanmu memang denganku kita pasti akan dipertemukan kembali

jika bukan, mungkin ini adalah pelajaran untuk lebih berhati-hati menaruh hati

tapi sungguh, kamu masih kunanti meski sedikit demi sedikit harapku kupaksa untuk berhenti

namun, semoga engkau mengerti

kau masih ada disini, disudut hati paling sunyi

bisakah untuk tidak membuatku menunggu lebih lama lagi?

Mendampingi atau Menunggu?

“Carilah orang yang ingin mendampingimu menuju puncak, bukan yang hanya menunggumu ketika di puncak”.

Iya, sekilas kata-kata itu benar sekali

Sebagian orang atau mungkin semua orang tentu menginginkan ada seseorang yang mendampinginya menuju puncak, menemani dalam susah dan senang

Orang yang mendampingi dalam artian disini adalah pasangan 

Dalam hal ini saya akan membahas makna dari kata-kata tersebut dari sudut pandang saya sebagai seorang muslimah

Sebagian orang, terutama dari kalangan anak muda, yg muslim dan muslimah khususnya, terkadang salah dalam memahami makna kata-kata tersebut

Mendampingi disini kadang disalah artikan, mendampingi dengan cara melakukan yang namanya “pacaran”

Menjadikan kata-kata tersebut sebagai motivasi untuk mendampingi pacarnya menuju kesuksesan

Jadi nanti kalau sudah sama-sama sukses baru nikah, begitulah kira-kira

Padahal, di dalam islam, tidak ada dan tidak dibenarkan yang namanya pacaran !!!

Tentu kata-kata tersebut sangat indah maknanya apabila diaplikasikan dengan cara yang benar

Akan sangat indah apabila yang mendampingi adalah orang yang telah halal bagi kita

Orang yang apabila kita memandangnya dengan penuh cinta akan mendapatkan pahala, bukan malah sebaliknya

Jadi, untuk ikhwan-ikhwan yang merasa ada akhwat-akhwat yang hanya menunggu saja di puncak, jangan salah faham dulu

Akhwat-akhwat nya sangat ingin mendampingi ikhwan-ikhwan sekalian menggapai kesuksesan bersama, asalkan dengan cara yang benar, bukan modus dengan mengajak pacaran

Nah, Untuk ikhwan yang belum siap mengajak akhwat nya untuk mendampingi menuju kesuksesan, ya persiapkan diri

Lakukan saja semua nya sendiri dahulu, toh ada orang tua, dan sahabat yang senantiasa mendampingi

Begitu juga dengan akhwat, sembari menunggu ikhwan nya menjemput untuk mendampingi, perbaiki saja diri terlebih dahulu, sibukkan diri dengan hal-hal yang baik

So, jangan jadikan kata-kata itu modus buat pacaran ya guys, modus buat bilang ke pacarnya kalau “aku bakal ngedampingin kamu dalam susah dan senang” 

Sendiri dalam taat lebih baik daripada berdua tapi maksiat 😊😊

(Mungkin) berteman dengan jarak 

Aku tak pernah sepenuhnya memahami apakah aku berteman atau bahkan sebaliknya dengan jarak

Aku tak pernah sepenuhnya membenci jarak, pun aku tak pernah ingin menyukai jarak

Harus berterimakasih atau memaki?

Aku sangat ingin berterimakasih pada jarak yang mengajarkan aku arti rindu, arti waktu, arti temu

Sebaliknya aku juga ingin memaki jarak yang membentang tanpa penghalang, membuatku menahan sesak bukan kepalang

Mungkin sejatinya hidup memang begitu, jarak ada untuk mengajarkan beberapa hal yang tak bisa didapatkan dari yang lain 

wahai jarak

Aku bukanlah pelajar yang baik, tapi meskipun demikian aku tahu kau akan senantiasa mengajarkanku dengan baik

Jarak

Titipkan  salam rinduku untuk kedua malaikat nyataku

Titipkan juga salamku untuk dia yang (mungkin) sedang menunggu 

Gerimis, 13 Juli 2016

Hening

Bersorak-sorak daku pada pantai
Berteriak-teriak daku pada gunung
Namun semua diam
Namun semua hening

Berlari-lari daku mencari
Bergoyang-goyang fikiranku melayang
Namun tak kunjung kutemukan
Namun tak kunjung kudapatkan

Kacau
Risau
Semakin ku cari semakin menghilang
Semakin ku kejar semakin menghindar

Sadar
Dalam hening malam ku tersadar
Dalam diam fikiranku terkapar
Hanya Dia seharusnya tempat bersandar

Di hening malam, 26 okt 2015
Salam rindu 😊

Museum Adityawarman dan Monumen Korban Gempa

Walaupun dalam keadaan cuaca yang tidak bersahabat alias hujan, semangat untuk pergi ke museum Adityawarman tetap tak tergoyahkan. Dengan kondisi hujan, saya dan sahabat saya gina, tetap nekat pergi ke museum, setelah sampai di museum, kami langsung masuk dan melihat-lihat. Niat awal ke museum untuk melihat pameran naskah kuno ternyata tak tersampaikan karena pameran yang ingin kami lihat ternyata tidak dibuka, kami pun berkeliling-keliling sampai pusing di museum, dan tak sengaja bertemu dengan salah seorang petugas museum tersebut, kamipun kemudian bercerita panjang kali lebar dengan petugas tersebut. beliau bercerita banyak tentang museum, mulai dari sejarah museum sampai dengan sejarah beliau bisa bekerja di museum tersebut, yag menurut saya cerita beliau tersebut sangat mengharukan. setelah bercerita panjang kali lebar dan haripun sudah sore, kamipun mengakhiri perbincangan yang sangat mengasyikan sekaligus mengharukan tersebut dna saling berpamitan.

Saya dan Gina langsung melangkahkan kaki untuk pulang, namun niat hati pun bercabang ingin makan bakso, mungkin karena dorongan cuaca yang mendung dan menginginkan yang panas-panas. hehehe. sepanjang perjalanan mencari warung bakso, tak sengaja saya melihat sebuah monumen yang sebelumnya belum pernah saya lihat walaupun saya sudah 4 semester kurang sedikit berdiam di Kota Padang tercinta. Monumen yang saya maksud adalah Monumen Korban Gempa yang terjadi pada 30 september 2009 yang letaknya tak jauh dari museum Adityawarman, setelah melihat monumen tersebut hati saya merasa aneh, dan saya pun tak tahu kenapa, entah karena terharu, heran dan perasaan-perasaan yang lain, di dekat monumen tersebut juga dituliskan nama-nama korban gempa dan beberapa puisi yang salah satunya di tulis oleh walikota Padang waktu itu, yaitu pak Fauzi Bahar.

Processed with VSCOcam with f2 preset
Monumen Korban Gempa.

Saya merasa sangat terharu, mungkin salah satu sebabnya adalah karena ada banyak hal yang tidak saya ketahui, dan salah keduanya mungkin karena saya merasa sedih atas kejadian gempa yang menimpa kota padang 5 tahun silam. semoga mereka ditempatkan di sisi Allah SWT. Amin.

Setelah melihat- lihat dan membaca-baca, kamipun langsung berfoto-foto ria di sana. Setelah berfoto-foto kami pun langsung melanjutkan perjalanan menuju warung bakso.

Pengalaman yang menurut saya sedikit luar biasa untuk hari ini, mulai dari awal pergi dalam keadaan hujan hingga pulang juga dalam keadaan hujan. namun saya merasa sangat senang karena ada banyak hal yang bisa saya ketahui hari ini, mulai dari sejarah museum, sejarah salah satu petugas disana dan mengetahui bahwa di Padang ada Monumen Korban Gempa. Alhamdulillah.

sudahkan anda membaca hari ini?

Tidak tahu apa dan kenapa alasan saya menuliskan tulisan ini.
Dengan pertanyaan “sudahkah anda membaca hari ini?” Tadi pagi oleh dosen saya.
Membuat hati saya merasa tersentuh.
Mengambil program studi ilmu informasi membuat saya merasa malu karena sebagai calon ahli informasi tapi setiap harinya saya selalu ketinggalan informasi dan jarang membaca.

Semoga ini bisa menjadi motivasi untuk awal yang baik.
Perbaiki diri. Tinggalkan hak-hal yang ga penting.
Yuk mari lebih rajin baca.
Iqro’=bacalah..

Berdua tapi sendiri

Entah untuk yg keberapa kali
Aku merasa sendiri (lagi)
Diam-diam merasa sepi
Tanpa kamu di sini

Ingin marah tapi lelah
Ingin menangis tapi malu
Hanya bisa bercerita sendiri
Dengan cermin di hadapan

Berdua tapi sendiri
Ingin ku tulis lagu dengan judul itu
Agar kau tau sibukmu membuatku merasa sendiri
Agar kau dengar suara merduku dalam luka

Sebab cinta bukan tentang meminta
Biarlah luka kutanggung sendiri
Sebab cinta bukan tentang memaksa
Biarlah sedih kuhibur sendiri

Berdua tapi sendiri
Ditengah keramaian lalu lalang jalanan
Semakin ku pandang semakin lengang

Berdua tapi sendiri ____

Aku juga ingin kau demikian

Sama hal nya seperti mereka
Aku juga sama
Ingin di ingat walau hanya sesaat
Ingin di lihat walau hanya sekejap
Aku juga ingin kau demikian

Seperti matahari yg selalu setia menyapa pagi
Bagai bulan yg selalu setia menyapa malam
Aku juga ingin kau demikian

Sama hal nya seperti mereka
Tertawa bersama hingga lupa apa yg sedang di derita
Menangis bersama hingga lupa rasa bahagia
Aku juga ingin kau demikian

Seperti daun yg tak pernah marah kepada angin yang menjatuhkannya
Seperti hujan yg tak pernah menyerah walau harus jatuh berkali-kali kemudian terabaikan
Aku juga ingin kau demikian

Sama hal nya seperti mereka
yang Tak pernah risau karena ada hati untuk berbagi galau
yang Tak pernah gundah karena ada jiwa untuk berbagi luka
Aku juga ingin kau demikian

Blog di WordPress.com.

Atas ↑